Bantul, 17 September 2014 Kompetisi yang dihelat oleh DIKTI, Uiversitas
Sanatha Dharma, dan BAPEDDA Kab. Bantul yang bertajuk Kompetisi Kincir Angin
Indonesia 2014. Mengusung Tema"Rekayasa dan Inovasi Teknologi Energi Terbarukan untuk Kemakmuran
dan Kesejahteraan Manusia" membuat kita semakin harus memahami arti dari
tema tersebut dikarenakan sumber energi yang semakin menipis dan membutuhkan
sumber energi alternatif maka Kompetisi ini diadakan.
Dewan juri yang dilibatkan juga tidak main - main seperti
dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Sebelas Maret, Institut
Teknologi Bandung, IST AKPRIND,dan Universitas Sanata Dharma. Terlebih
tahun ini beberapa universitas ada yang mengikuti baru pertama kali juga
menurunkan bentuk kincir angin terbaiknya. Dalam sesi wawancara saya dan rekan
mereka melakukan riset sebelum dibawa dalam kompetisi ini, tak tanggung -
tanggung mereka melakukan riset didaerah mereka masing - masing kurang lebih 1
minggu hingga 1 Bulan.
Mereka mengungkapkan bahwa riset yang mereka lakukan dengan
kondisi lapangan sewaktu kompetisi berbeda jauh dikarenakan perbedaan kekuatan
angin yang ada didaerah mereka dengan ditempat ini ( bantul ).
Kendala juga muncul ketika lomba dimulai, dari yang sederhana
sampai patahnya baling - baling yang mereka gunakan. Walaupun begitu namun
mereka tak patah arang menghadapi kompetisi ini hingga akhir.
Terhitung dari hasil sementara hingga tanggal 18 september
2014 Universitas Sanata Dharma masih unggul dari beberapa universitas peserta
lain dengan 4000,69 Watt. Namun kita sendiri masih menunggu semua kemungkinan
yang ada. Disamping itu penilaian juri terdiri dari beberpa aspek sehingga
pemenang juga sulit ditentukan.
